Rismanrasa's Blog

  • 05:05:11 pm on Maret 1, 2010 | 0
    Tag:, , , ,

    Romantisme Dalam Bercinta
    WOW!!! Pasti langsung terbayang film Titanic dan When Harry Met Sally, deh!!! Atau kata-kata dan syairnya Kahlil Gibran dan lagu-lagunya Michael Buble?! Memang romantis, sih!!! Bikin perasaan jadi gimanaaaaa gitu!!!

    Saya jadi ingat pernah membicarakan soal yang satu ini dengan beberapa orang sahabat terdekat saya. Desiree, Debby, dan Affi. Kami sudah saling kenal sejak masih Taman Kanak-Kanak dan sampai sekarang masih terus berhubungan dan selalu merasa dekat. Makanya, kami tidak canggung dan sama sekali nggak jaim bila harus bicara. Masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda, tetapi tetap saling mengerti dan menghargai. I love you girls!!! Always!!!


    Pembicaraan kami dimulai dari apa, sih, yang kami maksud dengan romantis? Mana yang lebih romantis, orang Indonesia atau orang Eropa? Soalnya selera kami beda-beda, sih!!! Hehehe… Berlanjut ke pengalaman pribadi dan hal-hal romantis yang pernah kami alami. Tentu saja ini termasuk lagu-lagunya David Foster. Maklum, zaman kami muda dulu, lagu-lagu itu yang terus diputar di radio. Udah tua juga, ya?! Sampai kemudian ke percakapan yang lebih serius mengenai hilangnya “romance” akibat telah pacaran atau menikah terlalu lama. Kenapa, ya? Kok bisa? Penting nggak, sih, untuk dipikirkan?

    Helen Fisher, PhD., seorang antropolog yang banyak menulis soal cinta dan seks, pernah meneliti otak menggunakan scanner khusus. Apakah ada hubungannya dengan reaksi kimia dalam otak? Hasilnya adalah Norepinephrine, Domaphine, dan beberapa unsur kimia lainnya “bertanggung jawab” atas perasaan cinta yang ada di dalam tubuh manusia begitu juga dalam tubuh binatang. Dia kemudian mengambil kesimpulan bahwa ini semua ada hubungannya dengan faktor genetik, di mana perasaan cinta adalah sesuatu yang alami dan sama kuatnya dengan rasa lapar.

    Terus apa hubungannya dengan romantisme dalam bercinta? Hmmm… Ini ada hubungannya dengan emosional seseorang, terutama perasaan cinta, rasa sayang, dan kasih. Jauh banget dari hasrat untuk melakukan hubungan seksual secara fisik. Ini lebih kepada “perasaan”.

    Kalau Socrates bilang, sih, romantisme dalam bercinta adalah sebagai sebuah bentuk dari keindahan. Keindahan dalam arti sebuah alasan mengapa manusia senang dengan pasangan yang romantis. Karena cinta itu sendiri indah dan ungkapannya juga pastilah dalam bentuk sesuatu yang indah pula. Sedangkan Deleuze, bilang, katanya, ini merupakan sebuah kekurangan dari cinta, di mana romantisme muncul untuk menutupinya. Mengapa? Karena menurutnya, dalam setiap percintaan, pasti ada rasa cemburu dan keinginan untuk memiliki yang sangat besar. Iya juga!!!

    Kalau menurut saya, ini adalah kombinasi antara keduanya. Sebuah bentuk penghargaan dan ekspresi serta ungkapan atas perasaan cinta, baik berupa tragedi maupun ironi yang timbul akibat perasaan itu sendiri, yang muncul dari dalam diri seseorang untuk memenuhi atau memuaskan hati dan pikirannya. Makanya, kalau ada yang merasa tidak romantis, menurut saya, sih, tidak mungkin. Soalnya, setiap orang pasti memilikinya. Hanya cara pengungkapannya saja yang berbeda. Lagi pula, ini menjadi penting, karena mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, bisa membuat hati dan pikiran lebih “plong”. Hehehe…. Bagaimana dengan pendapat pembaca?

    Romantisme dalam bercinta ini sudah menjadi sebuah kebutuhan, menurut saya. Bukan hanya pas lagi pacaran saja!!! Penting di dalam menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan. Apalagi kalau sudah terjebak dalam rutinitas keseharian. Romantisme ini bisa memberikan getaran dalam hati dan perasaan yang membuat kita selalu merasa tersanjung, senang, disayang, dicintai, dan juga dihargai. Bentuknya tentu saja bisa macam-macam. Bisa diungkapkan lewat setangkai bunga mawar merah, puisi cinta, ataupun sekedar usapan dan belaian mesra di dahi. Bahasa gampangnya, pokoknya yang bisa bikin ser-seran itu tetap ada, deh!!!

    Hanya saja, jangan terlalu berlebihan juga dan termakan oleh romantisme yang ada di dalam pikiran kita. Bisa-bisa nanti bunuh diri bareng kayak di film Romeo and Juliet atau seperti Kurt Cobain!!! Atau malah jadi gila seperti Jim Morisson yang tidak bisa kuat menahan diri dan terjerumus dalam alkohol serta narkoba. Terlalu ekstrim, ah!!! Kalau kata saya, sih, nalar dan perasaan harus selalu seimbang. Kalau ada salah atu yang lebih dominan juga pasti nggak akan bagus hasilnya. Seram!!!!

    Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi masukan dan bahan pemikiran, ya!!!

    Semoga Bermanfaat

    Mariska Lubis

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: