Rismanrasa's Blog

  • 03:52:51 am on Maret 1, 2010 | 1
    Tag:, , , , , , , ,

    Ayat-Ayat Cinta Dari Serambi Cinta (5)

    SURAT BUMI, 146 Ayat|Kalah di Tikungan Sejarah

    Ayat-Ayat Dinda, 61 ayat| “Hanya sekejap, dan kau pun berlalu pergi…”

    Ayat-Ayat Kanda, 48 ayat| “Jeeeh….”

    Ayat-Ayat Istana, 37 ayat| “Tak kan beranjak….”

    1. SURAT BUMI
      1. Ayat-Ayat Dinda
        1. Dik, meski perlawanan dan perang adalah juga tindakan solusi untuk mencapai tujuan tapi jangan pernah kau tempatkan dalam daftar list strategimu ya. Jika ada yang mengatakan dirimu bodoh jawablah dengan senyummu sambil melantunkan lagu ‘Jak Ta Bangun Aceh.’
        2. Dik, malam telah tiba. Jangan pernah takut kalah ya. Kadang, di kekalahan kita dapatkan strategi meraih kemenangan baru. Kita nyanyi lagu ya rasul usai ma’grib yoookk..
        3. Dik, setelah sebelumnya kita disiram hujan kini kita bermandi panas menyengat. Begitulah kehidupan, terus berputar. Maka bersiap diri lebih utama dari menyalahkan kekeliruan. Unt mereka yang maju, kekeliruan adalah anak tangga sukses berikutnya. Jangan lupa senyum, dik ya.
        4. Dik, konflik bisa menjadi generator perubahan karena ia mdorong kita untuk memperbaiki kesalahan. Tanpa konflik, kita menjadi diri yang diam. Tapi konflik tidak sama dengan kekerasan ya dik. Sikap, tindakan, dan keadaan yang menyakiti, melukai, dan mematikan itulah kekerasan. Apakah dirimu melihat banyak kekerasan yang sudah berlaku di negeri kita, dik? Oh ya dik, kakak izinkan dikau membaca lagi Serambi Cinta. Saleum peACEHeart
        5. Dik, pagi sudah tiba. Buka lah jendela dan liatlah negeri kita yang baru usai dari perang dan bencana. Kini sedang terus berbenah. Jangan lupa liat juga kuncup daun kates yang kakak suka, mungkin sudah bisa untuk dipetik.
        6. Dik, jangan lupa basuh muka dan berdoa sebelum tidur ya. Jika mungkin, berdoalah untuk kasih sayang kita agar dunia penuh dengan cinta. Konflik hanya akan membuat kita terpisah lagi padahal masih di negeri sendiri.
        7. Dik, kita memang beda dalam menyayangi. Tapi itulah kita ya. Maka jangan berhenti membasuh kasih agar hatimu terus dewasa dalam menatap dunia. Salam kasih untuk mu. Jangan lupa membaca bab perahu cinta
        8. Aku hanya punya satu sayap, dan ku ingin bisa terbang menemui mu walau akhirnya aku hanya bisa sekedar mengulur tangan untuk kau sentuh
        9. Angin berbisik: “Engkau dimana, dengan siapa. Di sini aku merindumu.”
        10. Kau dan Aku memang beda. Tapi percayalah, kan ku hormati perbedaan itu seperti aku menghormati hati dan pikiranku.
        11. Catatan Merah itu sudah hilang di pertemuan terakhir kita. Kau dan aku tidak lagi menjadi kita di tikungan nasionalisme ini
        12. Hanya sekejap, dan kau pun berlalu pergi…
        13. menunggumu bagai memetik mawar di kebun permaisuri. adakah engkau tiba pada waktunya? angin berbisik (bak sutera putih)
        14. Senyum manis. Moga kau baik2 saja
        15. Aku, lewat bintang tersisa di langit pagi sedang mengintip mu membuka mata menyambut matahari mjalani hari. Semangat ya
        16. Membuka buku rindu kita. Ada catatan tidak selesai. Tapi kau sudah pergi…
        17. Kau…
        18. Keranamu kekaseh hate
        19. Hari ini, aku ingin melupakan semua, juga dirimu dan kenangan yang ada. Sejenak, aku ingin hatiku kosong untuk menguji sejauh apa, aku merinduimu.
        20. Seuntai bisikan melintas, menyusup ke hati, mendamaikan jiwa: “Andai engkau rindu, lihatlah rembulan. Kalo tidak ada, ku kan menjadi angin yang senantiasa berbisik rindu di telingamu.” Duuch
        21. Esok daku kan pergi. Jangan menangis, karena tembang rinduku kan selalu ku nyanyikan untukmu, meski lewat simponi rembulan atau mungkin lewat orkestra hujan senja. Dan, saat hatimu rindu pejamkan matamu karen aku kan hadir dalam bayang rindumu. Jaga tali rindu kita karena hanya itu yang kita puny untuk menggapai istana cinta.
        22. Aku selalu ada kala langit hatimu mendung. Jangan lagi ragu untuk mengepak sayapmu. Terbang tinggilah, gapai hasrat hatimu dan aku bersiap menjadi ranting persinggahan kala dirimu dilanda gelisah jiwa.
        23. Di jalan sunyi ini aku sejenak membaca mantra hati untuk menghalau gilisah dan gundah hatimu. Karena itu, ku mohan, jangan patahkan sayapku, justru kala aku sedang berada di tikungan cinta.
        24. Tuhan tidak sedang bercanda
        25. Aku ingin kau tersenyum krn itu isyarat cinta yang bisa ku baca dengan sengenap jiwa. “Di luar langit belum melepas pekatnya.”
        26. Dasyatnya sentuhanmu… (hujan msh jatuh satu-satu di hatiku)
        27. Ada embun di taman hati, setelah kau sirami aku dengan kasihmu, semalam
        28. Kala kau menyapaku dengan cinta, aku kehilangan bahasa. Jangan berpaling lagi. Aku tak kuat memikul rindu ini, padamu. Ya, padamu. Padamu, pasti.
        29. Melihatmu, sebuah keindahan tak terkira
        30. Dukunganmu, mengetar jiwa.
        31. Nyanyi yok: loen galak gata| gata galak keu loen|loen gata galak-galak|i love you| you love me|aku suka kamu|kamu suka aku|aku kamu suka-suka|i love you|you love me
        32. The power of love dikaki langit senja. Mengeja alif ba ta menjadi kidung cinta, untukmu.
        33. Dengan syairku dunia bisa ku buat kembali berperang tapi belaian kasihmu membuatku hanya berhasrat menulis syair cinta. Bersamamu, membuatku tak ingin dunia ini, kiamat.
        34. Pagi ini, aku tidak lagi mencarimu karena kau ada di sini. Ku ketuk pintu kasihmu dan mengucap salam cinta: aku datang kekaseh. Mendengar sapaan indahmu, mjd keindahan menakjubkan.
        35. Ingin, dan selalu ingin menyapamu dengan cinta
        36. Suara… Dengarkanlah aku… Apakabarmu… Pujaan hatiku… Aku disini menunggunya…
        37. Cinta itu anak panah yg menancap di lubuk hati dg kecepatan tdk terukur. Dan, seteukur apa
        38. Ku kirim saleum cinta untukmu dan berharap engkau baik-baik saja…
        39. Senyum manismu masih terus menemani denyut nadi cintaku. Dan, tak kan terkikis oleh kisah mahabrata.
        40. Mencium parfummu buat aku tidak bisa berpaling
        41. Setiap kali nama mu kusebut di hati perahu cintaku melaju tanpa menyentuh samudera kehidupan. Di luar hujan kembali menjadi tali penghubung rindu ini untukmu
        42. Siapa disana yang sedang merajut kasih dengan senyum mengembang?
        43. Bersamamu, kata-kataku tiada lagi bermantra. Duhai, aku tak bisa menyembunyikan lagi lagu rindu di detak jantung ini…
        44. Masih tercium bau parfummu di jalan yang ku lalui. Dan, bunga kelapa itu kembali jatuh dilirikan pertamaku, persis kala itu. Kala aku melintas di tepian garis pantai
        45. Itu kah daun isyarat? Atau cuma ilusi senja bertemu isyarat?
        46. Diam tapi bergerak. Bisu tapi penuh bahasa
        47. Di perjalanan ini ada banyak jepit penuh warna tapi tidak ada jepit hitam milikmu.
        48. Angin mendesir diantara daun-daun, menyelinap ke bilik jiwa, membisik cinta. Sejenak, ku temukan pintu-pintu cinta di rumah masalalu Daroy Kameu. Bersama angin, kucumbui kenangan itu, perlahan…
        49. Masih saja ku dengar dengan simak terdalam
        50. Di kertas hatiku kembali kutulis 99 namamu tapi tetap saja hilang 11
        51. Senyum itu amat dekat di hati
        52. Begitu dekat dirimu, hanya senafas
        53. Maka bertemulah rindu di bilik daun, malam itu. Persis kala malam menjemput pagi tiba. Duh, suara hati.
        54. Menjemput pagi, menjemput rindu, dirimu
        55. Kusebut namamu, selalu
        56. Duh, lasmi
        57. Rindu sosok tak pernah bertemu, saraswati
        58. Kasehku, cinta terdalam ku.. selamanya
        59. Hidup berkalung cinta
        60. Menanti
        61. Menyapa, menyentuh, meraih, melepas

    ***

    1. Ayat-Ayat Kanda
      1. Ada orang yang siap berperang bahkan setelah damai datang. Tapi sedikit yang mau mengatakan “Kita lawan tapi bukan musuh”
      2. Apakah makna Aceh Pungo sekarang masih seperti arti yang dipikirkan Kompeni dulu, atau yg dimaknai secara heroik dalam khazanah perlawanan, jihad insan, atau seperti dalam sebutan analis terorisme sekarang, pengantin.
      3. Dengan cintaku ku perbaiki selimutmu duhai negeriku pantai barat selatan. Ku tau engkau sedang bersedih dari suara gelombangmu. Tabah ya, ku kan baca puisi cinta untuk mu, sepanjang malam ini (kado untuk aceh jaya)
      4. Do the BEST, dont THINK about RESULT
      5. Namaku, aceh, Ayahku, perlawanan, Ibuku, kasih sayang, Kakekku, perang, Kakakku, pemberontakan, Adikku, perdamaian, Istriku, bayang-bayang, Anakku, kegamangan, saudaraku, mata pedang, Temanku, pedagang, Tetanggaku, bulan terang, Pemimpinku, layang-layang
      6. Teman, disenja yang telah lama berlalu kita pernah habiskan waktu untuk mengaji kitab langit. Masih ingatkah kala kita simpulkan “kita tak ada maka kita ada.” Saat itu kita tidak sedang mencari makna untuk simpulan itu. Tapi kini, di senja ini aku tahu kalau kau yang telah tiada (RHM) begitu nyata ada dan sedang menyentuh hatiku.
      7. Dari lembah saree menatap langit. Dari balik daun dan ranting ku telusuri kenangan yang tinggal. Ada rindu menyergap sejenak.
      8. Terjebak badai ulee lee
      9. Dari jauh, aku menggelar zikir pemaafan diri untuk nanggroe yang telah melepas “kupiah meukeutop” (perjuangan) untuk sebuah “topi koboi” (petualangan).
      10. Selalu saja kala sedang fokus pada satu masalah maka masalah lain muncul. Dan buyarlah fokus pertama. Siklus masalah normal? Pola? Strategi? Skenario?
      11. “I want my words engraved on their minds and never to be forgotten”|aku ingin kata-kataku terukir dalam benak mereka dan tak pernah terlupakan. PYM Hasan Tiro (The Price of Freedom)
      12. Kembali menjalani tugas hati: mendengar dengan penuh kasih, dan berkata dengan isyarat cinta (setelah pisau amarah kita potong-potong dan kita simpan di bilik kenangan sejarah)
      13. Dasyatnya Pemaafan: “sebelum catatan kesalahan nya tiba ke hadapan tuhan aku telah memaafkan dirinya.”
      14. Dinausorus punah karena tidak bisa meresfon perubahan dengan cepat. Insting ‘loncatan kehidupan’ di ganti dengan insting ‘cermin ajaib’.
      15. Apa yang membuat kodok bisa selamat sampai sekarang padahal dinosourus sudah punah sangat lama?
      16. Politik Jalan Kekuasaan VS Politik Jalan Damai
      17. Seteguk kopi penghantar jalani sejarah hari ini… (gumpalan putih buram asap rokok menjadi mata batin membaca gerak negeri, yang kaku…achkk…)
      18. Sesungguhnya kita sedang menarik garis, dan jangan takut untuk membuatnya lurus, berkelok, melingkar atau putus-putus. Tuhan maha membimbing.
      19. Di atas kuburan kebencian ini ku tanam batu nisan cinta untukmu, kawan. Ayo, kembali menulis syair perang dan kita baca dengan penuh cinta.
      20. Ku cari kau di sekolah, universitas, pasantren, kantor, warung, jalananan, pustaka, google, yahoo, bahkan juga di metacape dan youtube ternyata kau ada di alif, lam, mim, ha.
      21. Aku ini lelaki di pinggir hutan yang di kejar macan kala mencari rotan dan digilas mobil sedan kala berada di jalanan.
      22. Dengan modal perdamaian (Peace) Aceh akan menggapai kemenangan (ACE) terutama jika perdamaian itu dimakna dengan hati dan seni (heART). Menemukan Aceh di dua kata utama itu – peACEHeart – bisa memperkaya usaha menemukan Spirit Keacehan sebagai motiv…asi melakukan perjalanan pulan ke Gampong Masa Depan yang sudah sejak lama hadir dalam bayangan (alam pikiran dan perasaan ureung Aceh) ???
      23. Mengapa masih ada kebencian di kala dunia bergerak ke arah perubahan? “Jika cinta memanggilmu ikutilah meski jalannya penuh liku. Jika sayapnya menyergapmu, pasrahlah, walau pedang yg terselip di sayapnya bersiap melukaimu.”
      24. Prita, airmatamu akan melapukkan tali pengikat ruang ekspresi. Manohara, senyummu menjadi mata panah arjuna yang menikam dada kuasa rahwana. Ada doa berlebih untuk kalian dari lubuk hati ini.
      25. MANOHARA, senyummu ada di tugu ingatanku yang ku dirikan di setiap sudut kota ini
      26. MANOHARA, tetaplah di istana negeri karena di sini cinta dan kasih menebar dari tujuh penjuru mata angin.
      27. MANOHARA, jangan biarkan lagi kuasa membungkam deritamu. Teruslah melawan dgn senyum
      28. MANOHARA, Aku menyimpan catatan kita di peti hati ini
      29. Manohara: dirimu memang bukan TKW tapi apa yang kau alami menegaskan bahwa kekerasan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Istana bukan jaminan keamanan, apalagi kuasa dibawah tiran. Waspadalah.
      30. Manohara: meski tidak banyak yang mendukung, engkau telah berani menyatakan keterkungkunganmu dengan senyum yang tidak berkurang.
      31. Manohara, jika ia telah merampas sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu maka aku bisa maklumi kenapa engkau pulang dengan segunung lahar api. Jangan menangis lagi ya…
      32. Senja menjelang tanpa ada letusan senjata. Tengkiyu perdamaian
      33. Menyambut hari tanpa ada lagi pikiran “mengibarkan panji-panji perlawanan”. Tengkiyu perdamaian
      34. Telah banyak ragam malam kita lalui. Sungguh, kini malam-malam penuh panorama keindahan. Tengkiyu perdamaian.
      35. Menjemput siang hari dengan sejuta harapan setelah semalam bebas bermimpi. Dulu, kala konflik, mimpipun tdk terjadi krn tdr yg kuatir. Tengkiyu Perdamaian. Saleum peACEHeart
      36. Pulang larut malam pun tidak kuatir lagi. Tengkiyu Perdamaian
      37. Mendengar bisikan: “Anak cucuku, kalian akan mengalami masa badai yang menghancurkan. Tapi kalian juga akan sampai pada masa panen yang mengembirakan. Hanya dengan bekal pengetahuan kalian akan mampu menggapai zaman yang pernah terwujud. Namun, masa kekuasaan akan tiba menggoda yang bisa saja mbuat kalian tergelincir.”
      38. Mengepung matahari dari jalanan berbau keranda, dari warung tak berarloji, dari media berwarta iklanisme, dan dari sesak dada aneuk nanggroe (anak negeri)
      39. Ibu, di koran ada berita kematian lagi. “apa kematiaan akan terus menjadi kabar keseharian kita, bu. Apa perang akan terus menjadi musik kami, bu.” Di luar, raung sirene ambulance memecah keheningan pagi. Meski ibu tdk mjwb, raut wajahnya penuh bahasa. Dari wajahnya terbaca bahwa perang akan berhenti. “Aku menunggu waktu itu tiba, ibu.”
      40. Ibu, seperti malam-malam yang sudah kita kembali tercekam ketakutan di bilik-bilik kamar rumah sendiri. Tapi pelukan kasihmu ibu terus menyibak harapan damai di hati. “Esok, pagi kan mengabari keindahan,” katamu menguatkan hati.
      41. Ibu, meski di selendangmu ada banyak “kalang” sejarah tapi di hatimu kutemukan sejuta harapan unt kami, anak cucu mu.
      42. Segera menuju Teater Kelopak Mata, melalui vcd saraf digital, film imajiner kan ku putar. Judulnya Manuskrip Cinta: Spirit dan Ethic Keacehan.
      43. Jika seseorang dapat melakukan sesuatu, siapapun dapat belajar untuk melakukannya
      44. Peta bukanlah wilayah yang sesungguhnya
      45. Ku tutup buku pagi, petang, sore dengan paraf alhamdulilah.
      46. Banyak dalam satu, unt menjemput maksud yang satu
      47. Titik Api itu mulai membakar. Sayang, masih banyak yang nyiram bensin ketimbang siram air.
      48. Sedang menjahit kata

    ***

    1. Ayat-Ayat Istana
      1. Aku pergi, tapi hati dan cinta ku tak kan pernah beranjak dari hatimu, walau cuma selangkah
      2. Sebelum ku pergi, ku ingin membenahi selimut tidurmu malam ini, dan membuat segelas susu untuk kau minum kala terbangun pagi esok. Jangan kuatir, aku akan baik-baik saja.
      3. Jika engkau mengharap cinta dari ku, aku hanya bisa memberi sebagian dari yang ku punya. Tapi jika kau mencintai-Nya dan dirimu di cintai-Nya, bumi dan langit dan seisinya beserta diri dan cintaku akan sepenuhnya menjadi milikmu.
      4. Aku ingin pulang, menemuimu kekasih. Memandangmu adalah keindahan. Berada di rumahmu adalah kemegahan. Bersamamu pasti tak terlukiskan. Aku ingin pulang…
      5. Kamus Hati: Belajar mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna
      6. Terimakasih untuk segala kesabaran dan keteguhan hati. Cinta kasihmu begitu menginspirasiku, duhai
      7. Hidup itu satu seni perang dan jika belum pernah berperang jangan mau hidup dulu, minimal berperang dengan keinginan
      8. Bagaimana hendak kulupakan dirimu jika engkau ada dipelupuk mata dan diurat saraf ingatanku.
      9. Membaca surah2 mu aku terlingkupi cintamu.
      10. Bulan akses tidak terbatas dari kekasih. “Dalam peluh kerja ku sempat hati menyebut namamu.”
      11. Menepi menunggu tiba nya kaki langit senja sambil mendendang kalimahnya.
      12. Kubaca surahmu dikesunyian hati dan kupetik buah kerinduan dari pohon kasih sayangmu, cinta.
      13. Menyusup ke relung subuh unt meneguk embun pagi. Semoga hari ini selembut angin dan sebening embun.
      14. Menyebut namamu, sebuah keniscayaan hati, maka rindu menjadi pakain jiwa. Sungguh, hari-hari ini dilingkupi cinta akan dirimu. Meski ku berpaling, wajahmu senantiasa ada di langit ingatanku. Duh, aku rindu dirimu duhai kekasih yang hatiku ada dlm kuasamu. (Suara Hati)
      15. Menjaga hati agar semakin fokus padamu
      16. Bagi mereka ini racun tapi bagi ku inilah jalan cepat menuju perjumpaan dengan mu kekasih. Andai mereka mengerti akan cinta maka apalah arti segala keindahan yang ada kini. Hukumlah aku tapi jangan cabut cinta di hatiku, karena hanya cinta yang kumil…iki untuk mencarimu kelak walau di urutan antrian terakhir.
      17. Jangan ikat tanganmu karena ku ingin menyentuhnya untuk yang terakhir kali
      18. Lembut menyapa dalam muraqabah cinta
      19. Berat, tapi kan kujalani sampai ke terminal waktu.
      20. Kau telah membuatku tiba di tujuan. Terimakasih, cinta
      21. Titik-titik gerimis hujan msh membekas di daun seulanga. Sama, kenangan itu pun msh melekat di daun ingatanku, hingga detik ini.
      22. Kenangan itu melekat erat di buku malamku, dan tak kan mungkin luntur oleh deras hujan saat ini. Dan kebenciannya pun tak kan mungkin mencabik keindahan menjadi duka lara, meski tanpamu bagai langit kehilangan bulan. Untuk semuanya, terimakasih cinta.
      23. Menantimu membuat hatiku gundah gulana padahal engkau kan tiba tak lama lagi. Duhai, apa yang mesti ku lakukan menghadapi godaan mata dan rasa. Ku ingin raga dan jiwaku sepenuhnya untuk kecintaan akan dikau.
      24. Sirine itu mengalun indah mengiringi ketibaanmu. Slmt tiba, mari minum seteguk. Usai btemu kekasih, kan ku sapa dirimu.
      25. Angin menyapa dan berbisik tapi tak tahu apa
      26. Sungguh, kadang sikap “siap” lebih utama dari sikap “melawan.”
      27. Sungguh, dengan melepas burung terbang jiwa pun akan terasa lapang dan saat itulah betapa cinta begitu indah karena kebebasannya. Sungguh…
      28. Aku bermimpi unt terus hidup dan aku bisa terus hidup karena mimpiku. Sungguh, aku akan terus hidup dalam semua mimpi mereka yang masih hidup
      29. Saat orang lain mengungkap untuk meminta, bersimpuh untuk memohon, bernazar untuk menghiba, berkorban untuk merayu, aku memilih diam – kerana ku tahu kasih, sayang, dan cintamu telah kau berikan sejak sebelum ku bisa mengungkap rasa.
      30. jika engkau jauh mungkin aku mesti mencari. Jika engkau tiada mungkin ku perlu mencari. Jika kau tak mengasihi mungkin ku menghamba. Tapi sungguh, kau ada dan menyatu dalam jiwa ini dan cintamu melingkupi, haruskah ku menyebut namamu lagi kala kau adalah aku dan aku adalah engkau? Aku hanya ingin diam karena cintamu tak terkata oleh bahasa ini.
      31. Jikalau mati listrik mungkin lilin bisa menjadi pengganti. Tapi sungguh, tak kan ada yang bisa menggantikan jika kasih sayangmu hilang dari jiwaku
      32. Hujan sejenak berhenti, persis ditikungan ingatan ku akan dirimu. Kau, selalu saja bisa menyakinkan hati akan tali penghubung hati kita
      33. Tersipreuk hujan yang lagi bercinta dengan angin di peraduaan dedaunan, atap rumah bahkan di menara mesjid dan di celah laju kendaraan saat ini.
      34. Hujan telah pergi tapi jejaknya masih ku temui di rerumputan dan dedaunan bahkan juga di bola mata indahmu. Aku memang tak kuasa menepis gundah tapi aku punya sekuntum doa menjelang senja untukmu duhai lekuk kemilau hati
      35. Sungguh, disemua lekuk jalanmu kutemukan bait-bait cinta, hingga tak terasa aku sudah berada di ujung jari kakimu
      36. Menyibak daun-daun pagi yang masih menyisakan kabut akan diri, sambil terus bercermin untuk menangkap makna sebuah perjalanan jiwa
      37. Daun-daun bergerak, lautan berombak, awan-awan beranjak, dan daku pun tak sedang diam di tempat. Bersamamu, aku mendaki dan menuruni perjalanan ini meski hanya lewat gerak rasa di hati.

    Kembali ke daftar isi, klik disini

    Sekian

    Saleum Cinta

    Risman A Rachman

    Iklan
     

Comments


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: