Rismanrasa's Blog

  • 03:54:52 am on Maret 1, 2010 | 1
    Tag:, , ,

    Ayat-Ayat Cinta Dari Serambi Cinta (4)

    SURAT LAUTAN, 57 ayat|Gelombang Hati

    Ayat-Ayat Pasir, 7 ayat| “Satu, yang menyatu itu terburai dalam tatapan.”

    Ayat-Ayat Badai, 12 ayat| “Jarak tempuh menggapai rindu ternyata hanya sekedip mata.”


    Ayat-Ayat Gelombang, 4 ayat| “Membaca Catatan Jejak di Buku Hati Kita.”

    Ayat-Ayat Perahu Cinta, 34 ayat| “Senja datang dan menghilang. Tapi sentuhan kaki langit menancap hingga bulan tiba”

    1. SURAT LAUTAN
      1. Ayat-Ayat Pasir
        1. Maafkan daku duhai langit, ini puisi terakhirku, yang kutulis di dinding awan putihmum jika ku tak kembali, jangan cari aku di samudera, tapi ikuti saja jejak ku di kaki senja, atau kala pagi tiba, jika kau ingin menyapaku, cukup kau sentuh angin, krn ku ada di kesunyian hatimu, atau, cukup tatap rembulan, karena ku ada di kegelapan jiwamu, dengan biola cinta ku akan berjalan di takdirku, JALAN SUNYI.
        2. Yang aku punya cuma catatan tua, kawan. Semua episode kepedihan telah kuhapus agar cintaku padamu tidak sedikitpun berkurang. Negeri ini masih membutuhkan seribu tangan penuh kasih unt membuatnya tak jatuh lagi ke mimpi yang dulu pernah sangat kita takuti. kaseh, kala hatimu terbakar cemburu siramilah dengan segelas anggur cinta. sejujurnya, engkau masih ada dihate ini…
        3. Satu, yang menyatu itu terburai dalam tatapan
        4. Aku melihat gelombang yang tidak tenang tapi perahu mengarunginya seperti tak akan tiba badai. Ikan, satu-satu menggelepar dari rahimnya.
        5. Tuhan, kami ini siapa dalam catatan harianmu? Demokrat? Liberal? Kapitalis? Sosdem? Kaum Kiri? Pejuang? Pendosa? Relawan? Politikus?
        6. Usah kau maklumkan lagi rindumu padaku setelah kau tiup badai perang usai senja menyapa malam kala itu. Usah kau hadirkan gelombang pasang padaku usai kau patahkan sayap demokrasi pasca perang bertahun lalu. Aku pasir yg merekam jejak walau jilat lidah riak laut menistakan sejarah. Kau badai memang pahlawan. Kau gelombang memang penguasa. Tapi aku pasir tempat para wali membasuh nista zaman.
        7. Mengapa kau tetap pilih aku sebagai teman padahal sudah ku kirim isyarat ketidaksetiaan. Mengapa masih saja kau ajak aku berfilsafat padahal telah ku tulis opini kerancuan. Mengapa masih kau ajak aku untuk melawan padahal sudah kuteriakkan kata diam. Mengapa masih kau ajak aku untuk menggapai kemenangan padahal sudah ku lansir kekalahan. Aku ini cuma pasir, teman.

    ***

    1. Ayat-Ayat Badai
      1. Meski diriku terbebas dari kepungan hujan badai tapi aku masih tetap terkepung badai rindu padamu, bahkan saat ini, kala ku ada bilik kamar ini, senyummu terus hadir, nyata, senyata buliran hujan yang melekat di jendela kamar
      2. Separuh jiwa mu ada bersama ku, separuh jiwa ku ada bersama mu, ku ingin kau selalu ada di hatiku, kau ingin ku selalu ada dihatimu, melewati gerimis dan terik mentari, sendu rembulan dan kedipan bintang,  tanpa mesti bertemu atau berkirim pesan, karena engkau dan aku ada dalam setiap tarikan nafas
      3. Kau sapa aku dengan gerimis….
      4. Kala hujan menyapa bumi bermekaranlah bunga-bunga, dan sungguh kala kau menyapaku hati ini berbunga-bunga
      5. Ku ingin selalu bisa menyapamu, walau cuma lewat angin dan gerimis, dan berharap suatu ketika kau ingin btemuku walo sekedar lewat mimpi.
      6. Jarak tempuh menggapai rindu ternyata hanya sekedip mata
      7. Kosong……
      8. Persis kala hujan kau hadir, dan mata jiwapun tak lagi hendak terpejam. Sekeping jepit hitam masih melekat dalam ingat.
      9. Hati terkepung nuansa pagi diantara bebukitan bertapak hamparan gampong daroy kameu. Angin menyapa pucuk-pucuk bak lambaian panggilan cinta dara manis berkerudung asma ilahi. Ada desir mengaliri sudut hati, pelan-pelan
      10. Ada bahasa cinta di untaian hujan, dan isyarat langit kelam semakin mendramatisir imaji liar, duhai….
      11. Hujan telah usai, alhamdulillah (semua yang berdoa dan berharap) sudah dikabulkan-Nya
      12. Hujan, alhamdulillah

    ***

    1. Ayat-Ayat Gelombang
      1. Akhirnya, ku tutup jua buku gelombang ini setelah ombak tak lagi menyentuh ujung kaki yang mencari jejak hati walau di langit masih ku harap menemukan  bayang-bayang kerinduan. Aku ingin rebahkan hati agar lelah tak sangat menusuk sukma
      2. Melukis di kanvas samudera sambil terus berharap layar kan tiba untuk kembali arungi lautan rindu
      3. Membaca Catatan Jejak di Buku Hati Kita
      4. Menepi sejenak, dari jangkauan matahari, sambil memukul rapai, mencari nada perlawanan, siapa tau ia masih ada, untuk mencambuk gairah, melawan mitos kekuasaan

    ***

    1. Ayat-Ayat Perahu Cinta
      1. Awalnya, ku ingin memiliki karena mencintai. Akhirnya, ku mencintai tanpa mesti memiliki. Terimakasih Cinta
      2. Sapamu semalam (mimpi) menepis kabut di langit hati hari ini. Tapi layar msh belum terkembang jua dan badai rindu masih belum berlalu
      3. Mabuk rindu: gelas anggur kasih ini hanya mampu ku tatap tanpa mampu keteguk lagi
      4. Di samudera ini mana lah mungkin aku berlayar sendiri. Aku akan karam tanpa kemudi, dan tak tiba di tujuan tanpa layar. Jaka pun ada sejuta bintang, hanya satu yang ku jadikan pegangan. Dirimu
      5. Akhirnya, aku telah memilih takdirku melewati jalan sunyi ini, jalan yang ku yakini dapat mengantarkan aku bertemu denganmu, duhai sang penguasa jiwaku
      6. Melalui rembulan aku mencuri pandang dan melalui bintang ku sematkan kedipan rindu untmu seorang. Selamat tidur kekasih jiwa
      7. Aku memang bukan arjuna yang punya busur gandiwa, juga bukan kresna yang kerab membaca kitab “Nyanyian Tuhan”. Tapi aku hanya pengembara yang dengan Perahu Cinta ingin menyampaikan ayat-ayat cinta padamu, saraswati. Maka teruslah bermekaran dan menebar parfum cinta kasehmu, duhai laksmi.
      8. Meski kerap aku berpaling engkau senantiasa berlari untuk menyambut deklarasi cintaku yang kerap putus oleh goda waktu.
      9. Ku tahu aku ada di hatimu dan engkau ada di hatiku
      10. Menembus pagi, menelusuri hati-hati yang galau, aku datang untuk menyapa, dengan sekuntum syair perahu, agar semua kembali saling membantu, mengejar rindu yang dipuja.
      11. Badai rindu melanda lautan hati. Perahu kata kehilangan kendali. Duh…
      12. Bintang, kemunculanmu menuntunku lepas dari gelisah malam
      13. Ku sebut namamu 3 kali, aku dahaga akan rindu Ku sebut namamu 7 kali, aku terbakar cinta Ku sebut namamu 33 kali, aku terbelenggu kasih Ku sebut namamu 100 kali, aku fana. Kau dan aku satu
      14. Aku terapung di samudera cintamu dan berharap tak akan menemukan tepian. Semalam, sentuhan kasihmu lewat angin masih ku rasa hingga kini
      15. Kanvas putih-biru langit hari ini ku isi lagi dengan lukisan kekaguman akan kasihmu.
      16. Sisa hujan masih saja menebar aroma dirimu di saraf cintaku. Subhanallah
      17. Lautku penuh. Air hujang kepedihan menyesakkan samudera. Tapi dirimu selalu ada di hati
      18. Di luar bulan masih menunggu ku peluk. Disini pekat malam hanya mampu mendekap dinginnya dinding pagi
      19. Menunggu bulan jatuh ke pelukan setelah gairah mengiris di sepanjang siang. Dengan isyarat jemari, ku sebut namamu 33 kali
      20. Teruntuk lakmi dan saraswati: “Barangsiapa menulis cinta di langit niscaya bumi diberkahi kasih. Barangsiapa menanam satu benih damai di bumi ia mendapat berlimpah pohon kebajikan menuju pemilik langit dan bumi”.
      21. Bulan menjadi matamu mentapku. Angin menjadi tangan mu menyentuhku. Aroma dedaunan menjadi parfum mu yang membuatku terawasi akan kasihmu
      22. Aku tersesat di samudera cinta. Anggur asmara membuatku mabuk. Tapi ku yakin kau tak kan menepis rasa di hati karena cinta telah mengikat jiwa
      23. Sungguh, rasa kasihmu meleburkan jarak menepis sekat. Kau dan aku terhubung oleh tali rasa
      24. Kucari dirimu di mana-mana, ternyata ada di dalam hatiku
      25. Aku adalah aku di cermin diri. Di cermin hati aku adalah dika
      26. Di samudera hidup, aku lah perahu yang mencari dan kau cari
      27. Dan kita saling mendekat lewat makrifat kehidupan (air, api, tanah, angin)
      28. Jika bukan untuk dirimu untuk apa aku hidup. Kalau hidup tidak untukmu apa artinya hidup. Bersatu denganmu adalah awal dan akhir yang ku harap
      29. Kusebut namamu lagi seiring nyanyian langit malam membasuh bumi. Ku simpul temali jiwa agar tiada yang berpaling. Ku hitung ketukan hujan untuk menjadi syair pengobat rindu
      30. Namamu menjadi tali pendakian kehendak. Menyebutmu, sekali saja, jiwaku melebur
      31. Malam ini, aku tercebur di samuderamu
      32. Engkau samudera aku hanya pengelana yang mencari ujung walau yang ku dapat baru bibir pantai.
      33. Perahu cinta: bulan mengintip di atas samudera malam. Aku yang di perahu tak lelah mengayuh untuk menepi hati yang merona kesyahduan. Kaki langit membisu tapi ku tangkap isyarat buaian asmara.
      34. Senja datang dan menghilang. Tapi sentuhan kaki langit menancap hingga bulan tiba

    Bersambung ke Bagian 5, klik disini

    Saleum Cinta

    Risman A Rachman

    Iklan
     

Comments


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: