Rismanrasa's Blog

  • 02:55:25 am on Februari 23, 2010 | 0
    Tag:, , ,

    Katakan dengan Seks
    Seks bisa menjadi bahasa efektif untuk mendorong percepatan perubahan. Mungkinkah?

    Mungkin saja, terutama jika bahasa reformasi, transformasi, restorasi dan revolusi sudah tidak lagi “berfungsi” untuk mencapai “klimak” perubahan yakni terbangun dan tersedianya sistem dan aparatur penyelenggara negara yang lebih baik.

    Rakyat tidak boleh lagi hanya diajak untuk terus bersabar sementara sistem dan aparatur penyelenggara negara tidak menumbuhkan optimisme untuk bangkit bersama-sama. Dari perubahan ke perubahan rakyat tetap saja menjadi objek bagi berbagai pihak. Selebihnya, rakyat kembali ke rutinitas dan ritual hidupnya sendiri seperti sebelumnya.

    Siklus hidup rakyat yang terus begitu menjadi sangat mekanis tanpa mekanik. Ada tuntutan tapi lemah gagasan. Ada tuntunan tapi lebih enak jadi ikutan. Ada keinginan tapi tidak ada harapan. Akibatnya, rakyat juga tidak lagi menyadari perannya sebagai aktor penting dalam sebuah sistem demokrasi. Sikap tidak ambil pusing yang dipicu oleh berbagai pengalaman buruk “politik perubahan” menyebabkan masing-masing lebih memilih untuk mempertahankan hidup ketimbang mengurus hidup melalui aksi perubahan. Ikut serta ya tapi lebih banyak dilakukan dalam bentuk partisipasi semu.

    Ikut demo mau dan sebaliknya ikut dukung pihak-pihak pun siap, sejauh itu ada kaitan kekerabatan dan atau keuangan. Jadi, rakyat sudah pada tahap kehilangan trust dan hope. Selebihnya, adalah transaksi sesaat yang melahirkan bisnis dukungan di pasar-pasar politik mulai di ruang istana sampai ke ruang terbuka jalanan.

    Reformasi ternyata memang tidak cukup menjanjikan perubahan. Kejatuhan rezim otoriter ternyata tidak sama dengan kemenangan rakyat. Sementara untuk melakukan revolusi masih terkendala soal format agar bayangan ketakutan bisa sirna. Sementara itu, memilih jalan makar dan atau kudeta sudah menjadi pilihan yang berat karena sudah terlanjur diposisikan sebagai anak haram demokrasi.

    Andaipun bahasa reformasi dan revolusi sudah tidak menjadi bahasa yang membawa perubahan maka menggunakan bahasa seks untuk tujuan mendorong perubahan menjadi penting untuk dipertimbangkan. Seks sebagai kekuatan pendorong perubahan menjadi lawan seimbang untuk menghadapi rezim politik “seolah-olah” yang juga menggunakan daya tarik seks (sensualitas atau pesona) dalam praktek politiknya.

    Maksudnya, jika segenap aktor utama seks (laki dan peremuan) yang bersepakat pada pentingnya perubahan melakukan “puasa” seks bagi pasangan yang tidak mau ambil bagian dalam gerakan perubahan bagi negeri maka mungkin saja kemandekan jalannya perubahan akan teratasi. Bagaimana pun bercinta dengan pasangan akan lebih indah jika dilakukan dalam suasana hati, lingkungan, daerah, dan negeri yang damai, indah, dan sejahtera.

    Sebaliknya, sangat tersiksa bercinta dengan pasangan yang sedang melamun karena belum dapat duit dan harus bayar hutang pula, geram karena uang hilang dibank dan belum jelas juga kapan dibayar, bingung kepada siapa uang haram hasil rampokan anggaran pembangunan harus dititipkan,  ketakutan karena esok akan diperiksa polisi atau KPK akibat korupsi, marah karena dituduh sebagai pencuri uang rakyat oleh LSM, merajuk karena di demo pakai kerbau, bingung karena lupa baca isi RUU, kalut karena besok ada aksi demo besar-besaran, gelisah karena harus ngumpulin orang ramai untuk demo, dan lainnya.

    Mau kehidupan yang lebih baik? Ayo dorong agar terjadi perubahan? Dan, katakan, dengan seks!?

    Saleum Cinta

    Dipublikasikan juga di http://www.kompasiana.com

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: