Rismanrasa's Blog

  • 06:21:42 am on Februari 22, 2010 | 0
    Tag:, , , , ,

    Jangan Risau Lagi, Kasih
    unduh googleHari ini lagi-lagi nama mu kusebut, kekasih. Persis seperti hari-hari sebelumnya, juga namamu selalu ku sebut dengan sebutan terindah. “Cintaku, kekasihku, rinduku” adalah sebutan yang amat kusukai, dan bila kangen menyergap diriku maka dengan sangat lembut disertai tarikan nafas, ku sebut namamu dengan suara hati terindah.

    Kalau sudah begitu, membayangkan wajah mu adalah keindahan. Bertemu dengan mu dalam hayalan adalah kenikmatan dan bisa mendengar suaramu selalu saja menghadirkan rasa yang kadang berakhir dengan gigitan bibir yang menghilangkan rasa sakit.  Meski ku tahu ini hanya sebuah rasa sungguh aku tak mau mengabaikannya. Bagaimana mungkin ku ingin mengabai keindahan yang menghiasi segenap relung hatiku. Tidak. Sama sekali, tidak.

    Jauh dengan mu ia. Itu bukti tidak terbantah. Sama jauhnya antara langit dan bumi. Tapi karena cinta dihatiku begitu luas maka perasaan ku menjadi begitu dekat dengan mu. Luas nya bumi dan langit juga menjadi sebab mengapa pandangan bisa menyatukan bumi dan langit.

    Itulah mengapa dari waktu ke waktu cintaku terus bertambah dan akan terus ku tambah. Semuanya agar aku merasa selalu lebih dan lebih dekat lagi dengan mu. Akibatnya, kemana pun aku menghadap senantiasa aku menghadap ke dirimu. Kemana pun kaki ku langkah tetap saja jalannya mengarah pada dirimu.

    Cinta ku padamu benar-benar telah menghilangkan jarak, bahkan sama sekali tiada berjarak, Aku ada dalam jangkauan pandang mata mu lewat matahari kala siang, atau lewat rembulan kala malam dan bahkan lewat mimpi kala mata terpejam. Dan, lewat angin aku selalu kau belai dan bahkan selalu kau dekap lewat angin, air dan bahkan suara.

    Cintaku yang besar besar padamu juga telah mendatangkan keindahan yang tiada terkira. Seluruh suara adalah musik yang dengannya namamu ku syairkan. Dan ini adalah syair yang kerap ku lantunkan kala aku sedang berjalan di sunyinya malam.

    “Duhai, di Jalan Sunyi ini kita bicara dari hati ke hati, tanpa suara tapi nyaringnya menyentuh sukma, persis seperti sentuhan awal kala ku terima takdirku untuk mencintaimu sepenuh jiwa.”

    “Duhai…di Jalan Sunyi ini “gelap memberi cahaya, sunyi memberi bunyi, dan hati semakin dipenuhi rindu. Rindu cahaya, rindu suara, dan rindu dirimu duhai kekasih.”

    “Bersamamu kasih, hidup lebih terasa dan terasa lebih hidup, juga terus hidup serta hidup terus, bersamamu kasih.”

    “Aku pasrah pdmu malam, sepasrah pasir dibasahi ombak lautan.”

    “Aku mencium harum wangi bunga setiap kali kau datang lewat angin. Maka kau pun selalu menyapa walau lewat kedip lirikan matahari dan rembulan.”

    Kekasih, hari ini usah kau risaukan diriku lagi karena cinta ku yang dalam dan luas tiada lagi berkehendak untuk patah arang oleh godaan, redup oleh ujian, dan galau oleh kecemburuan. Sungguh, aku mencintaimu dan aku pun tahu kalau kau pun amat sangat mencintai ku walau kasihmu pada yang lain juga tiada berkurang sebagai kasih dan cinta kesemestaan yang memang tiada boleh lekang hingga kiamat datang.

    Dan aku percaya, di dunia atau pun di alam sana cinta ku pada mu akan tiada berkurang hingga kepastian bertemu dengan mu terwujudkan.

    Semalam telah ku seka air mata kerinduan dan kini kutulis bening cinta di kesaksian ini sambil ku ucap satu ungkapan cinta: Aku sangat mencintai mu. Pasti.

    Saleum Cinta

    Risman A Rachman

    Dipublikasi juga di http://www.kompasiana.com

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: